Checklist Keuangan UMKM Menyambut Aturan Baru 2026
Dua aturan tahun ini menyentuh langsung usaha kecil: PP 20/2026 soal PPh Final 0,5%, dan MDR QRIS 0% yang berlaku 1 Oktober 2026. Keduanya cenderung menguntungkan pelaku usaha…
Dua aturan tahun ini menyentuh langsung usaha kecil: PP 20/2026 soal PPh Final 0,5%, dan MDR QRIS 0% yang berlaku 1 Oktober 2026. Keduanya cenderung menguntungkan pelaku usaha kecil — tapi hanya kalau catatan keuanganmu cukup rapi untuk memanfaatkannya.
Berikut daftar periksa yang bisa kamu kerjakan akhir pekan ini. Tidak butuh aplikasi mahal, tidak butuh akuntan.
1. Pisahkan rekening usaha dan rekening pribadi
Ini langkah pertama yang paling sering dilewati, dan paling banyak akibatnya.
Selama uang usaha dan uang dapur bercampur di satu rekening, kamu tidak akan pernah tahu usahamu untung atau tidak. Kamu hanya tahu saldonya masih ada. Itu dua hal yang sangat berbeda.
Buka satu rekening terpisah. Semua penjualan masuk ke sana, semua belanja bahan keluar dari sana. Gajimu sendiri? Transfer dari rekening usaha ke rekening pribadi, dengan jumlah tetap, di tanggal tetap. Perlakukan dirimu seperti karyawan.
2. Catat omzet harian — cukup satu angka
Untuk PPh Final, yang dihitung adalah omzet, bukan laba. Jadi yang wajib kamu catat cuma satu angka per hari: total penjualan.
Buku tulis dan pulpen sudah cukup. Yang penting setiap hari, bukan direkap sebulan sekali dari ingatan.
Kenapa ini penting: dengan fasilitas Rp500 juta pertama bebas pajak, banyak usaha rumahan sebenarnya tidak perlu membayar apa pun. Tapi kamu hanya bisa membuktikannya kalau punya catatan.
3. Cek kategori merchant QRIS-mu
Batas bebas biaya untuk usaha mikro adalah Rp500.000 per transaksi; untuk usaha kecil hanya Rp100.000. Kalau usahamu mikro tapi terdaftar di kategori yang salah, kamu membayar potongan yang seharusnya tidak perlu.
Hubungi bank atau penyedia QRIS-mu dan tanyakan kategori merchant-mu sekarang.
4. Hitung ulang harga jualmu
Kalau terakhir kali kamu menetapkan harga adalah tahun lalu, hampir pasti harga bahanmu sudah bergerak. Menaikkan harga memang tidak enak — tapi menjual rugi tanpa sadar jauh lebih tidak enak.
Cara menghitungnya ada di panduan menghitung HPP.
5. Siapkan dana darurat usaha
Targetnya sederhana: biaya operasional satu bulan, disimpan terpisah dan tidak diganggu.
Ini yang membedakan usaha yang selamat dari usaha yang tutup saat ada satu kejadian buruk — mesin rusak, pelanggan besar telat bayar, atau kamu sakit seminggu.
Kalau sekarang belum ada, sisihkan 5% dari setiap penjualan. Pelan, tapi jalan.
6. Catat piutang, dan tagih
Banyak usaha kecil sebenarnya untung di atas kertas tapi kehabisan uang tunai, karena barangnya sudah keluar tapi bayarannya belum masuk.
Buat satu halaman khusus: siapa berutang, berapa, sejak kapan. Baca halaman itu setiap Senin. Menagih itu tidak enak, tapi jauh lebih tidak enak menutup usaha yang sebenarnya untung.
Enam hal ini tidak butuh modal. Yang dibutuhkan cuma satu kebiasaan: menyentuh angka usahamu setiap hari, bukan setiap kali panik.
Diskusi (0)
Belum ada komentar
Jadi yang pertama membuka percakapan.
Lanjutkan bacaanmu
Artikel yang saling menyambung dengan topik ini.
Cara Menghitung HPP Usaha Rumahan Tanpa Bingung
Pertanyaan yang paling sering muncul di grup pelaku usaha kecil bukan soal pemasaran, melainkan ini: "Harga jual saya sudah benar belum, ya?" Kebanyakan menjawabnya dengan…
Mulai 1 Oktober 2026, Biaya QRIS Hilang untuk Transaksi Kecil — Ini Rinciannya
Setiap kali pelanggan bayar pakai QRIS, ada potongan kecil yang jarang disadari pemilik usaha: Merchant Discount Rate (MDR). Nominalnya kecil per transaksi, tapi kalau usahamu…
Aturan Pajak UMKM Berubah: PPh Final 0,5% Kini Tanpa Batas Waktu untuk Usaha Perorangan
Kalau kamu punya warung, katering rumahan, toko online, atau usaha jasa atas nama pribadi, ada satu perubahan aturan tahun ini yang perlu kamu tahu — dan kabarnya cenderung baik.…
Jualan Lewat Live: Panduan Mulai untuk Pemilik Usaha yang Malu Tampil
Siaran langsung sudah jadi salah satu cara berjualan yang paling banyak dipakai di Indonesia. Tapi bagi banyak pemilik usaha kecil, hambatannya bukan teknis — melainkan rasa…